Sejarah SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta

Kondisi Sekolah.

Semula kami bermukim di Jl. Sultan Agung 14, yang saat itu digunakan pagi hari oleh SMP Muhammadiyah 2 (Putri), siang hari SMP Muhammadiyah 4 (dahulu SMP Muhammadiyah 7) kemudian malam hari oleh IKIP Muhammadiyah Yogyakarta (Sekarang Universitas Ahmad Dahlan). Sampai beberapa tahun kami pindah ke jl Bhayangkara (sekarang SD Muhammadiyah Ngupasan).

Dengan menumpang di SD Muhammadiyah Ngupasan yang terletak di Jl. Bhayangkara atau lebih tepatnya sebelah barat Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, kami memulai berinteraksi dengan siswa, orangtua siswa, sesama guru dan lembaga-lembaga yang terkait dengan dunia pendidikan. Sebuah awal yang cukup memprihatinkan kami berjalan tertatih-tatih. Proses belajar-mengajar berlangsung siang hari, yang sebenarnya kurang kondusif untuk transformasi pendidikan formal. Kelas I, II dan III masing-masing 1 kelas. Tenaga pengajar 12 orang, dan tenaga administrasi sebagai komponen untuk menggerakkan kegiatan belajar, ditangani oleh 3 orang. Predikat sekolah yang pada waktu itu masih menjadi salah satu bahan pertimbangan masyarakat untuk memasukkan putra putrinya untuk memasuki sekolah, masih berstatus terdaftar.

Konsolidasi dan Penataan Administrasi

Langkah awal yang kami laksanakan yaitu dengan konsolidasi. Langkah ini terselenggara dalam rangka menyamakan visi, persepsi dan kesatuan langkah menangani pendidikan yang pada era itu sangat memprihatinkan. Kami katakan memprihatinkan karena terdeteksi lewat indikator: waktu belajar siang hari, latar belakang kehidupan ekonomi orang tua siswa masih lemah, mayoritas peserta didik berprofesi sebagai pembantu rumah tangga, sarana prasarana yang dimiliki masih sangat memprihatinkan

Lukisan seorang petani yang sedang menggarap sawah, memandu seekor kerbau, bersenjatakan cemeti dan bermandikan cahaya matahari, adalah symbol khas Muhammadiyah. Gambar yang tertera di halaman belakang buku-buku terbitan resmi yang dibubuhi dengan tulisan “Siapa Menanam Mengetam” seolah menjadi energi bagi kami untuk selalu berbuat yang terbaik.

Alhamdulillah atas ketekunan, ketelitian dan kejelian kerja yang  diselimuti dengan semangat beribadah serta pola kerja sama yang baik  dan saling tolong menolong antar unsur-unsur yang ada, sehingga membentuk mata rantai yang padu dan kokoh, maka suasana lingkungan pelaksanaan pendidikan tercipa dengan baik, tertib dan disiplin.

Gayung bersambut. Kepercayaan masyarakat mulai melirik keberadaan SLTP Muhammadiyah 4 Yogyakarta. Jati diri kami mulai berhembus mengikuti gelombang pendidikan yang diidamkan masyarakat. Semula jumlah kelas hanya 3 kelas (1 kelas paralel), maka mekar menjadi 6 kelas (2 kelas paralel). Demikian pula status sekolah yang menjadi rujukan, semula terdaftar menjelma menjadi diakui. Hal ini terjadi pada tanggal 13 November 1985. Lama memang. Ibarat irama musik, instrument semakin lengkap. Perpustakaan, Laboratorium IPA dan ruang BP pun kami miliki. Satu pintu sudah terbuka lagi. Masih banyak jendela dan pintu harus kami buka.

Seperti halnya sekolah lain dalam lingkungan Muhammadiyah, kamipun segera hijrah ke Jl. Sultan Agung No. 14 yang semula dihuni oleh SLTP Muhammadiyah 2 putri. Tepatnya pada tahun pelajaran   1987-1988. Dalam istilah demografi, penyesuaian dengan lingkungan harus dihadapi. Karena situasi dan kondisi sangat berbeda dengan suasana lama, maka kendala yang dihadapi kami adalah : pertama belum memiliki mebeler. Persediaan ruang yang berbeda, juga harus disikapi dengan membuat komposisi kelas yang elastis, artinya jumlah siswa tiap kelas berbeda sesuai dengan lebar ruangan. Kedua lingkungan masyarakat yang heterogen. Tetangga di Jl. Sultan Agung beberapa di antaranya adalah orang nasrani. Demikian pula lembaga pendidikan diseputar lokasi bernuansa salib. Yang lebih gamblang dan cukup mencolok mata adalah keberadaan gedung bioskop Permata. Sangat klise bila dalam suasana belajar diberi petuah-petuah agung, namun begitu keluar disuguhi gambar orang-orang primitive.

Pencarian Identitas

Dalam beberapa kasus, kami terpaksa mengembalikan siswa kepada orang tua dikarenakan kebijakan yang diterapkan disekolah sudah tak searah lagi dengan pembinaan di rumah. Atau sebab lain yang tidak selaras dengan prinsip-prinsip pendidikan yang dianut persyarikatan.

Bina Prestasi siswa juga menjadi sorotan kami. Program yang kami tawarkan adalah dengan menambah jam pelajaran atau yang sering disebut les, menambah kegiatan ekstra kurikuler baik secara kwantitas maupun kwalitas. Praktis kegiatan interaksi sosial di sekolah dari pagi hingga sore hari. Bahkan pernah beberapa semester/cawu kami masuk jam 06.15. Upaya demikian secara terus menerus ditempuh, tak lain dalam rangka peningkatan prestasi siswa, yang setiap tahun terus meningkat persaingan dalam mendapatkan peserta didik.

Alhamdulillah hasil dapat ditunai. Lambat laun kepercayaan masyarakat semakin meningkat. Bahkan gaung SLTP Muhammadiyah 4 Yogyakarta mendapat respon tidak hanya di radius jalan Sultan  Agung. Yang dapat kami inventarisir mereka datang dari Jl. Wonosari km 6, komplek Perumahan Perwira Angkatan Udara Adisutjipto, Perum Griya Arga Permai jl. Godean km 4.

Dari sudut jumlah kelas, di jalan Bhayangkara semula 3 kelas meningkat menjadi 6 kelas, maka setelah bermukim di jalan Sultan Agung menjadi 9 kelas dan posisi terakhir menjelma 12 kelas. Sejak tahun pelajaran 1992/1993 peminat yang ingin memasuki  SLTP Muhammadiyah 4 Yogyakarta melebihi dari daya tampung yang tersedia.

Sesuatu yang sejak lama kami idam-idamkan dan kami impikan teraih sudah, yaitu status disamakan. Untuk mendapatkan status ini perlu perjuangan yang tidak ringan, karena menyangkut kepercayaan dari Pemerintah, Muhammadiyah dan Masyarakat.

Rumah Kita

SLTP Muhammadiyah 4 Yogyakarta, satu diantaranya yang dapat dikatagorikan sebagai sekolah nomaden. Sebab sebelum bisa menikmati di jalan Ki Mangunsarkoro No. 43, sempat bermukim di Jl. Purwanggan (dahulu AKUB) selama 6 bulan, mengingat di jl. Sultan Agung kala itu masih dalam masa pembangunan (sekarang menjadi kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta). Peristiwa kepindahan di jalan Ki Mangunsarkoro sekarang hanya karena Hidayah Allah. Syahdan, ada kerabat keluarga Paku Alam bernama Raden Mas Adhi Soegondho (alm.), bermaksud menjual  tanah seluas  2715 m2 berikut rumah, pendopo dan seperangkat gamelan, terletak di Jl. Ki Mangunsarkoro No. 43. Setelah lama tak laku jua, beliau bermaksud mewakafkan untuk lembaga pendidikan. Gayung bersambut, kebetulan peristiwa ini didengar oleh salah seorang warga Muhammadiyah yang selanjutnya diteruskan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah. Pihak persyarikatan kemudian memutuskan tanah wakaf tersebut untuk dimanfaatkan SLTP Muhammadiyah 4 Yogyakarta. PDM Kota Yogyakarta bersama dengan SLTP Muhammadiyah 4, akhirnya dapat membangun gedung untuk kegiatan Belajar Mengajar seluas 1248 m dan Masjid Banaran seluas 144 m 2.

Share This Post: