News & Article

Sabtu, 13 April 2019

Usaha dan Tawakal

Tak terasa hampir tiga tahun, kami menemani, membimbing dan memberi arahan buat siswa kelas IX yang sebentar lagi akan berjibaku menentukan masa depan. Waktu begitu singkat. Semula masih unyu-unyu, kala menginjak kaki pertama kali ke kampus hijau (SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta). Sekarang sudah beranjak dewasa dengan segenap kelincahan, kepintaran dan kengeyelannya.

Enam semester dilalui dengan penuh kenangan. Dua tahun lebih saling memberi dan menerima. Hari ini adalah titik tawakal, setelah bertahun-tahun berusaha dengan sekuat tenaga yang terkerahkan dan pikiran yang tercurahkan. Tangga demi tangga tersimpan dalam kenangan. Suatu masa pasti akan bertemu dan berpisah.

Hari ini, Ustadz Purwanto, S. Ag. Seorang motivator ulung akan membangkitkan ghirah untuk meraih yang terbaik. Sisa-sisa detik terakhir akan dimanfaatkan dengan seoptimal mungkin, yang tentu saja dengan seizin Allah swt.  Usaha dan doa ibarat sebuah sekeping mata uang yang selalu bersisian.

Sebagai seorang yang beriman harus meyakini bahwa dalam Surat At-Tahrim ayat ke 6, menjadi kewajiban orang tua untuk mendidik anaknya. Selain sebagai sumber kebahagian dan penyejuk hati, anak adalah amanah terbesar yang Allah berikan kepada setiap orang tua.  “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka mengandung maksud agar mendidik dan mengajarkan kepada keluarga hanya dalam rangka taat kepada Allah swt. Melarang mereka dari berbuat maksiat kepadaNya. Serta memperbanyak zikir agar Allah menyelamatkan mereka dari api neraka. Dengan demikian memberikan pengetahuan agama terhadap anak merupakan tanggung jawab orang tua yang paling utama.

Pernyataan Ibnu Qayyim lebih keras lagi. Kebanyakan masalah dan keburukan yang ditimbulkan dari perilaku para anak-anak adalah buah dari kelalaian para orangtua. Hal ini bisa bersumber dari kurangnya perhatian, kurangnya pendidikan akhlak.

“Doa adalah jantung ibadah.” Usaha kita di dalam berdoa, selain berharap pengabulan, juga sebagai ibadah. Doa adalah bukti dan sekaligus pernyataan kelemahan diri kita kepada-Nya. Orang yang malas berdoa menunjukkan keangkuhannya sebagai hamba, seolah-olah ia tidak membutuhkan bantuan Allah.

Share This Post: