News & Article

Sabtu, 09 Maret 2019

Wasilah

Salah satu kegiatan dalam Baitul Arqom adalah kajian sebuah ayat al-Qur’an, yang diselenggarakan setelah usai sholat subuh. Peserta dibagi beberapa kelompok kecil, agar kajian dan diskusi ayat al Qur’an lebih focus dan efisien. Kelompok kami mendapatkan ayat surat Al-maidah : 35. Salah satu bagian dari ayat tersebut tentang wasilah.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihad-lah pada jalan-Nya, supaya kalian mendapat keberuntungan.

Wasilah dalam bahasa arab berarti jalan atau perantara. Kata padanannya wasithah yang artinya jalan tengah dan pendamai. Dengan mengartikan wasilah menjadi orang tengah (perantara), kemudian timbul pengertian bahwa untuk sampai kepada Allah harus dengan perantara. Sedang perantara itu adalah ruh-ruh orang yang dianggap suci. Misalnya nabi, wali, para syuhada’, dan orang-orang shaleh. Kepada ruh mereka yang telah meninggal itu orang-orang berwasilah tersebut memohon bantuan agar dapat menyampaikan do’a kepada Allah swt.

Penulis pernah mendengar kata wasilah sejak dari kecil. Tapi tidak tahu inti sari dari wasilah. Yang sering didengar, kata wasilah itu diakitkan dengan kata Nabi Muhammad saw. Tak heran kalau dulu, sering mendapat kata “dapat wasilah dari Nabi”. Ternyata kata wasilah itu adalah perantara. Biasanya wasilah ini dipakai kalau seseorang akan menunaikan sesuatu. Akan ujian, mantu, mendirikan rumah dll. Aktifitas itu dimaksudkan agar mendapat wasilah. Artinya agar yang diidamkan dapat tercapai dengan perantara. Apakah yang demikian itu ada tuntunan dari Rasulullah? Al-Fairuzabadiy dalam Tanwiirul-Miqbaas Min Tafsiir IbniAbbaas menyatakan bahwa wabtaghuu illaihil-wasilah diartikan dengan carilah ad-darajah ar-rafi’ah(derajat yang tinggi). ”Carilah kedekatan dengan-Nya (Allah) dalam derajat (yang_tinggi)_dengan_amal-amal_yang_shalih.” Jadi, wasilah (perantara) yang dapat menyampaikan pada taqarrauh (dekat) dengan Allah adalah amal-amal shaleh. Lalu, apakah amal shaleh itu? Tidak lain adalah ath-th’ah fiimaa binahum wabaina rabbihim Artinya_ketaatan_melaksanakan_apa-apa yang telah ditentukan antara mereka dengan Tuhannya. Apa saja, yang diperintahkan atau tidak dilarang oleh Allah dilaksanakan dengan  ikhlas, itulah amal shaleh.

Dalam Q.S. Al-isra’ (17) ayat 56-57, Allah menegaskan bahwa kandungan ayat itu memiliki makna bahwa pengertian wasilah adalah jalan pendekatan diri kepada Allah, dengan mengingkari panggilan kepada selain Allah. Sebab selain Allah itu tidak memiliki kemampuan menyingkap marabahaya maupun mengalihkannya dari para pemanggil (yang minta bantuan kepadanya).

Bagaimana Muhammadiyah menfasirkan wasilah? Di masa awal berdirinya Muhammadiyah, disibukkan dengan pemberantasan TBC (Tahayul, Bid’ah dan Churafat). Tradisi yang telah menggerogoti inti ibadah. Perbuatan yang sia-sia tapi terus dimakmurkan. Muhammadiyah memfungsikan dirinya sebagai penengah, yaitu memberi informasi yang benar tentang tata cara beribadah kepada Allah. Muhammadiyah memberi jalan yang benar, yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Muhammad saw.

Dalam perkembangannya, Muhammadiyah masih tetap pada jalurnya, yaitu memurnikan Agama Islam sesuai yang diamanatkan oleh Rasulullah. Penyakit TBC, tidak akan hilang begitu saja. TBC selalu hadir dengan kemasan kekinian. TBC millennial. Ujudnya mungkin bukan berupa ritual, tapi semua aktifitas yang mengabaikan peran Allah dalam melakukan usahanya.

Share This Post: