News & Article

Senin, 12 November 2018

Akreditasi 2018 (Penyampaian Aspirasi)

Setelah dilakukan upacara penyambutan kedua Assesor yaitu : Bapak Dwi Suyamto, S. Pd, M. Sn. Dan Ibu Kalimah, S. Ag. M.A. dengan alunan gamelan serta penampilan si fenomenal Aditya Navis yang lebih senang dipanggil Dede, Assesor berkenan bertatap muka dengan Komite dan Majelis Dikdasmen PDM Kota Yogyakarta. Oleh Komite, forum semacam itu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kesempatan yang langka seperti itu, digunakan dengan beberapa usul dan saran. Mudah-mudahan kehadiran beliau bisa menyalurkan apa yang menjadi ganjalan Komite selama ini.

Saluran komunikasi biasanya terhambat oleh birokrasi yang diciptakan oleh organisasi. Mereka menitahkan langkah-langkah sendiri, namun kadang terganjal oleh kerikil yang diciptakan sendiri. Saluran komunikasi memiliki peran penting dalam membentuk satu komunikasi yang baik. Prinsip saluran komunikasi harus mengandung makna yang sesuai dengan apa yang hendak disampaikan, tanpa dibatasi oleh koridor birokrasi.

Ada tiga saran yang disampaikan oleh ketua Komite Ibu Umi Mu’af Winingsih, S. Sos, M. Sc. Seorang dosen di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa. Pertama Hubungan Antara Komite dan Sekolah harus satu rasa. Sebagai contoh tentang biaya sekolah. Sebuah usaha tanpa adanya biaya, jalannya pasti tertatih-tatih. Sekolah adalah usaha untuk memperoleh pendidikan lebih baik. Pendidikan, agar jalannya tidak tertatih perlu biaya yang memadai.

Biaya pendidikan diperoleh dari Pemerintah dan Masyarakat (Orang tua), itu kalau sekolah negeri. Kalau sekolah swasta, seperti Muhammadiyah dibalik. Dana diperoleh dari Orang tua yang lebih dikenal dengan infaq dan Pemerintah. Kedua sumber pembiayaan ini harus dikelola dengan proporsional dan transparan. Bantuan dari Pemerintah sudah ada tata caranya tersendiri. Adapun yang dikelola oleh Muhammadiyah telah ada aturannya sendiri.

Meskipun tertib dana telah diatur oleh masing-masing yang berwewenang, namun Komite sebagai sebuah lembaga dan diakui keberadaannya, tentunya harus dilibatkan dalam penentuan dan alur penggunaan dana pendidikan. Komite bukanlah lembaga yang berprofesi sebagai tukang stempel. Komite merupakan pangeja wantahan dari semua orang tua siswa yang masih aktif di sekolah.

Kedua, Program Kerja. Komite SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta, selama ini aktif ikut berpartisipasi dalam pembuatan program kerja. Keaktifan ini bukan semata-mata dua lembaga yang saling bersanding. Namun, ikut aktif memikirkan keberadaan sekolah ditengah arus persaingan yang semakin ketat. Hanya saja, untuk program yang mengarah pada proses belajar mengajar belum optimal. Kualitas pendidikan dapat diukur dari kualitas proses belajar mengajar.

Ketiga, Komite dengan Persyarikatan. Setelah terjalin hubungan yang harmonis Antara : siswa, orang tua dan sekolah, sudah waktunya direkatkan lebih jauh lagi dengan Majelis Dikdasmen sebagai wakil persyarikatan. Persyarikatan Muhammadiyah adalah pemilik Sekolah. Majelis Dikdasmen bersama Kepala Sekolah, Guru dan Komite sebagai pengelolannya. Ketiganya harus sinergis bukan hanya terbatas pada manajemen pendidikan, namun juga manajemen keuangannya. Perlu ditelusuri lebih mendalam, apakah selama ini administrasi keuangan telah memiliki tekad kebersamaan? Apakah ketiga lembaga tersebut telah ada jalinan komunikasi administrasi tentang dana pendidikan?

Share This Post: