News & Article

Selasa, 09 2018

GUIDING BLOCK : "HIASAN JALAN" DAN MAKNA YANG TERSIMPAN

Penulis : Rischa Mahmudhi Haris

sumber gambar : pribadi

Ada yang pernah melihat trotoar jalan diberi 'hiasan' seperti ini nggak?

Ada yang pernah memperhatikan?

Atau ada yang tahu fungsi 'hiasan' tersebut?

Eits! Jangan salah manteman! 'Hiasan' tersebut bukan untuk memperindah trotoar lho. Bukan banget. Pasti pada mikir gitu kan? Sama. Hihi. Sini-sini kakak jelasin. Jadi kotak-kotak timbul bergaris di trotoar itu namanya "Guiding Block" ya guys. Apa itu Guiding Block?

Pengertian Guiding Block adalah jalan pemandu, tanda yang dikhususkan untuk penyandang disabilitas khususnya penyandang tunanetra.

Tahu huruf Braille? Nah, Guiding Block ini memang mirip dengan huruf Braille kan kalau diperhatikan. Tekstur yang timbul memudahkan penyandang tunanetra untuk 'membaca' jalan yang harus dilalui menggunakan indera perabaan melalui telapak kaki atau alat bantu tongkat.

Ada dua kode yang digunakan. Garis-garis timbul yang berarti jalan lurus, jalan terus atau boleh jalan. Sedangkan Kalau bulat-bulat timbul berarti berhenti. Biasanya diletakkan diujung jalan atau persimpangan agar penyandang tunanetra yang berjalan di atas Guiding block waspada. Kayak gini guys bentuk dari Guiding Block itu.

Sumber : google image

Guiding Block banyak ditemui di stasiun, terminal, perkantoran atau tempat-tempat umum lainnya. Karena pada dasarnya pemasangan dan pengadaan fasilitas ini jelas diatur dalam Peraturan Menteri dan Undang-Undang.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (Permen PU) No. 30 Tahun 2006, misalnya, mengatur tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.

Peraturan itu dibuat untuk melaksanakan peraturan sebelumnya, yaitu Undang-Undang (UU) No. 28 tahun 2002 dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 36 tahun 2002.

Kedua aturan ini menyatakan bahwa bangunan gedung kecuali rumah tinggal dan rumah deret sederhana diamanatkan memiliki fasilitas dan aksesibilitas untuk memudahkan penyandang disabilitas dan lanjut usia beraktivitas.

Cek gambar di bawah ya guys untuk salah satu contoh lokasinya.

Sumber : harianjogja.com

Ada yang tau guys ni lokasi tepatnya dimana?

Pastinya gak asing kan sama lokasi ini, apalagi anak jogjaaahh, tepatnya jalan Malioboro.

Sekilas aja biar kalian juga tahu sejarahnya. Jalan Malioboro memang merupakan layaknya jalan seperti biasa yang diwarnai dengan adanya jalanan aspal dan samping ada trotoarnya. Namun tempat ini konon merupakan tempat yang sangat bersejarah khususnya wilayah Keraton Ngayogjokarto.

Jalan Malioboro didirikan ketika bersamaan dengan pendirian Keraton Yogyakarta. Kata “Malioboro” bermakna karangan bunga yang diambil dari bahasa Sansekerta. Makna tersebut mempunyai hubungan erat dengan masa lalu  ketika Keraton mengadakan acara besar maka di sepanjang jalan Malioboro akan dipenuhi dengan bunga. Tapi sekarang kok gak ada bunganya ya kaak…? Tanya Kanjeng Sultan aja dehh….

Jalan Malioboro juga berasal dari salah satu nama kolonial Inggris yang bernama “Marlborough” yang pernah tinggal pada tahun 1811-1816 M. Pada masa penjajahan dulu, jalan Malioboro digunakan sebagai pusat perkembangan perekonomian, salah satunya adalah membangun Stasiun Tugu oleh Staat Spoorweg (1887). Dan ketika era kemerdekaan, jalan Malioboro merupakan tempat pertempuran antara pejuang Indonesia melawan penjajah yang terjadi utara sampai selatan di sepanjang jalan tersebut. Keberadaan jalan Malioboro juga tidak terlepas dari konsep Kota Yogyakarta yang ditata membujur dengan arah utara-selatan dengan jalan-jalan yang mengarah ke penjuru mata angina serta berpotongan tegak lurus. Pola ini diperkuat dengan adanya “poros imajiner” yang membentang dari arah utara menuju ke selatan dengan keraton sebagai titik tengahnya.

“Poros” tersebut diwujudkan dalam bentuk bangunan, yaitu Tugu (Pal Putih) di utara ke selatan berupa jalan Margatama (Mangkubumi) dan Margamulya (Malioboro), Keraton Yogyakarta dan berakhir di panggung Krapyak. Jika titik awal (Tugu) diteruskan ke utara akan sampai ke Gunung Merapi, sedangkan jika titik akhir (Panggung Krapyak) diteruskan akan sampai ke Pantai Parangtritis (Samudera Hindia atau Pantai Selatan) sebagai simbol supranatural Ngayogjokarto.

Itulah sekilas sejarah asal muasal Jalan Malioboro ya guyyss, semoga kalian tetap selalu mencintai dan mempelajari sejarah Indonesia. Jalan Malioboro yang dulu merupakan kekuatan perekonomian penjajah dan direbut oleh pejuang bangsa Indonesia digunakan sebagai pusat perkembangan perekonomian masyarakat dan masih berjalan sampai sekarang. Jalan Malioboro penuh sesak dengan adanya warung-warung kecil di kiri kanan jalan yang menjual berbagai macam barang dagangan yang merupakan barang dagangan khas Yogyakarta. Tidak hanya di siang hari, beberapa restoran terbuka yang sering disebut dengan lesehan beroperasi waktu malam hari di sepanjang jalan Malioboro. Tidak heran jika jalan Malioboro setiap saat dan setiap waktu akan selalu penuh sesak dengan adanya orang yang ingin menikmati suasana sejarah Yogyakarta. Apalagi ketika hari libur tiba, banyak wisatawan lokal maupun luar yang ingin menikmati suasana khas Yogyakarta. Oleh karena itu, akhir-akhir ini pemerintah merekayasa jalan Malioboro untuk dijadikan tempat wisata yang nyaman untuk semua kalangan masyarakat. Hal ini tidak terlepas dengan kaum difabilitas juga mendapatkan fasilitas yang layak guna kenyamanan dalam menikmati perjalanan wisata.

Nah, di Jalan Malioboro ini banyak banget pejalan kaki ya guys. Apalagi setelah Kanjeng Sultan mengatur sistem parkir kendaraan menjadi terpadu di wilayah parkir Abu Bakar, Senopati, dan Ngabean. Alhasil Jalan Malioboro bebas dari kendaraan yang terparkir di sepanjang trotoarnya. Sekarang Jalan Malioboro sudah diatur sedemikian rupa untuk menyamankan pejalan kaki. Salah satunya dengan dipasangnya Guiding Block di sepanjang trotoar Jalan Malioboro.

Buat kalian…!!! Setelah tahu fungsi Guiding block ini kalian jangan sampai ya merebut hak pejalan kaki penyandang tunanetra. Berikan jalan, menyingkirlah dari Guiding block apabila kalian berpapasan dengan mereka. Biarkan mereka berjalan dengan 'membaca' Guiding block karena mereka sangat membutuhkan agar dapat berjalan aman.

Sosialisasikan juga ya ke teman, keluarga, kenalan tentang fungsi Guiding block ini agar banyak yang mengetahui dan hak pejalan kaki penyandang tunanetra dapat diberikan sebagaimana mestinya. Kita yang bisa melihat pasti tidak perlu Guiding block kan. Jadi apa salahnya berbagi jalan dengan orang-orang penyandang tunanetra tersebut.

Banyaknya masyarakat awam yang belum tahu tentang Guiding block ini meremehkan dan menganggapnya hanya sekedar hiasan. Tak sedikit orang-orang yang akhirnya mengabaikan. Warung-warung pinggir jalan kadang menggelar dagangannya di atas Guiding block. Atau memasang papan nama warung di atasnya. Bahkan para pengendara motor juga dengan santainya parkir di atas Guiding block.

Coba bayangkan apa yang terjadi jika penyandang tunanetra lewat sedangkan jalan untuknya direbut seperti itu? Pasti mereka bakal menabrak. Kasihan kan? Jadi apabila kamu melihat warung yang menggelar dagangannya atau meletakkan papan nama atau bahkan motor-motor yang parkir di atas Guiding block, mulai sekarang diingetin yuk! Beri pengertian bahwa itu akan membahayakan penyandang tunanetra yang lewat. Atau misal ada penyandang tunanetra lewat lalu banyak orang yang berdiri di atas Guiding block, mintalah mereka untuk menyingkir sebentar agar penyandang tunanetra melewatinya dengan aman.

Pelajar yang baik akan bermanfaat bagi sesama bukan? Kalau bisa berbuat baik dari hal yang kecil kenapa nggak? Yekan? Yekan? Itu saja pesen dari kakak…!!!

Tabik!

Share This Post: